Showing posts with label Dialog dr hati. Show all posts
Showing posts with label Dialog dr hati. Show all posts

Tuesday, September 18, 2007

Mencari Tuhan dengan Fisika




Jika membicarakan esensi Tuhan, mungkin pendekatan paling tepat dalam fisika adalah dunia kosmologi. Tuhan-lah yang memulai alam semesta ini dengan Big Bang (bagi yang percaya). Teori Alam Semesta yang dimulai dari dentuman besar adalah salah satu teori penting dalam kosmology. Ilmu fisika kita, belum sanggup menjelaskan secara kaffah dan harfiah apa yang terjadi pada menit-menit pertama akibat ledakan besar yang terkenal itu (the first 3 minutes). Kelanjutan dari Teori Dentuman Besar adalah kehancuran total (Big-crunch). Yang diramalkan akan terjadi sebagai imbas dari akhir dari yang awal.

Namun, Teori Dentuman Besar dan Kehancuran Besar bukanlah satu-satunya teori penciptaan Alam Semesta. Teori Relativitas Umum Einstein, yang merupakan dasar ilmu kosmologi modern, juga memiliki pandangan lain tentang Alam Semesta. Solusi lain ini mengatakan bahwa alam semesta hadir tanpa dentuman besar dan terus berposes tanpa pernah ada akhir. Walaupun Teori Dentuman Besar sebagai awal alam semesta adalah teori yang paling banyak dianut oleh sebagian besar para kosmologis sekarang, tapi secara ilmiah belum ada satupun yang berhasil memberikan jaminan tentang hal ini.

Kemudian bagaimana memandang kosmologis dan teori Kuantum menurut persepsi pribadi? Itu bukanlah suatu masalah, karena sebagai mahluk ciptaan Dzat yang Maha tinggi, ada perna manusia dalam penciptaan. Dalam Al Quran Adz Dzariat: 56, disebutkan bahwa “Tidaklah kuciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”.

Dasar ini menuntut kesadaran ekstra tinggi mengingat perilaku dan pengaruh global berbagai faham yang menjerumuskan pemikiran nurani dan mengabrasi keimanan. Rasakan bahwa ada kesadaran atas dan kesadaran bawah dalam diri manusia. Kesadaran atas adalah pikiran, pencapaian logika yang menjawab misteri fenomena alam ini (melalui rasionalisme saintik dan fenomena alam). Sementara kesadaran bawah adalah hati dan iman, pencapaian kekaguman pada Sang Pencipta.

Siapa yang Menciptakan Alam Semesta dari Ketiadaan?
Kemenangan Dentuman Besar, memicu dogma materialis, untuk membuang dogma agama ke tumpukan sampah sejarah. Namun bagi materialis lain, muncul dua pertanyaan yang tidak mengenakkan: Apa yang sudah ada sebelum Dentuman Besar? Dan kekuatan superbesar (mega force) apa yang telah menyebabkan Dentuman Besar sehingga memunculkan alam semesta dari yang tiada menjadi ada?

Beberapa biarawan materialis seperti Arthur Eddington menyadari bahwa jawaban untuk pertanyaan ini akan mengarah pada keberadaan sang pencipta. Filsuf ateis, Anthony Flew, mengomentari masalah ini: bahwa teori itu (alam semesta tanpa batas) masih benar, tentu saja tidak mudah atau nyaman untuk mempertahankan posisi ini di hadapan kisah Dentuman Besar.

Banyak ilmuwan yang tidak mau memaksakan diri menjadi ateis menerima dan mendukung keberadaan pencipta yang mempunyai kekuatan tak terbatas. Misalnya, ahli astrofisika Amerika, Hugh Ross, menyatakan Pencipta jagat raya, yang berada di atas segala dimensi fisik, sebagai: Pencipta itu transenden, bekerja di luar batasan-batasan dimensi alam semesta. Ini berarti bahwa Tuhan bukan alam semesta itu sendiri, dan Tuhan juga tidak berada di dalam alam semesta.

Dentuman Besar sebagai Bukti Kehadiran Tuhan
Sangat jelas bahwa Dentuman Besar berarti penciptaan alam semesta dari ketiadaan dan ini pasti bukti keberadaan pencipta yang berkehendak. Meskipun banyak orientasli dan ahli kosmologis mencoba membantah fakta tersebut melalui berbagai dalil yang mereka bangun, penjelasan alternatif untuk membantah kenyataan ini.

Ada pula sejumlah model yang telah dikemukakan oleh materialis yang menerima teori Dentuman Besar tetapi tetap berusaha melepaskan diri dari kaitan dogma keagamaan dan penciptaan. Salah satunya adalah model alam semesta itu "berosilasi"; dan yang lainnya adalah "model alam semesta kuantum".

Model alam semesta berosilasi dikemukakan ahli astronomi yang tidak menyukai gagasan bahwa Dentuman Besar adalah permulaan semesta. Dinyatakan bahwa pengembangan alam semesta sekarang ini akhirnya akan membalik suatu waktu dan mulai mengerut. Pengerutan ini akan menyebabkan segala sesuatu runtuh ke dalam satu titik tunggal yang kemudian akan meledak lagi, memulai pengembangan baru. Proses ini, kata mereka, berulang dalam waktu tak terbatas.
Model inilah yang menyatakan akan ada perulangan tanpa batas suatu penciptaan dan akhir dari suatu siklus yang berkesinambungan, sehingga peran Pencipta menjadi transenden dan tidak hadir dalam perwujudan alam semesta.

Skenario tersebut tidak didukung oleh hasil-hasil riset ilmiah selama 20 tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa alam semesta yang berosilasi seperti itu tidak mungkin terjadi. Lebih mendalam lagi, bahwa hukum fisika tidak bisa menerangkan mengapa alam semesta yang mengerut harus meledak lagi setelah runtuh ke dalam satu titik tunggal (black hole). Melainkan alam semesta harus tetap seperti apa adanya. Hukum-hukum fisika juga tidak bisa menerangkan apakah tujuan dari pengerutan dan pengembangan (peledakan) kembali sebagai siklus yangmerujuk pada harmoni semesta.

Sebuah versi terbaru yang dipublikasikan lebih luas dari model alam semesta kuantum diajukan oleh ahli fisika, Stephen Hawking. Dalam bukunya, A Brief History of Time, Hawking menyatakan bahwa Dentuman Besar tidak harus berarti keberadaan dari ketiadaan. Alih-alih "tiada waktu" sebelum Dentuman Besar, Hawking mengajukan konsep "waktu imajiner". Menurut Hawking, hanya ada selang waktu imajiner 1043 detik sebelum Dentuman Besar terjadi dan waktu "nyata" terbentuk setelah itu. Harapan Hawking hanyalah untuk mengabaikan kenyataan "ketiadaan waktu" (timelessness) sebelum Dentuman Besar dengan gagasan waktu "imajiner" ini.

Ia mencoba mengajukan penjelasan berbeda untuk Ledakan Besar selain Penciptaan dengan mengandalkan kontradiksi. Sebagai sebuah konsep, "waktu imajiner" sama saja dengan nol atau seperti "tidak ada" jumlah imajiner orang dalam ruangan atau jumlah imajiner mobil di jalan. Jelas, Hawking hanya bermain dengan kata-kata. Dia menyatakan bahwa persamaan itu benar kalau mereka dihubungkan dengan waktu imajiner, namun kenyataannya ini tidak ada artinya.
Kemungkinan ini ditentang keras oleh ahli matematika, Sir Herbert Dingle, yang menganggap Hawking kemungkinan memalsukan hal-hal imajiner sebagai hal nyata dalam matematika Singkatnya, solusi imajiner atau teoretis matematika tidak perlu mengandung konsekuensi benar atau nyata.

Hawking menghasilkan hipotesis yang tidak berkaitan dengan kenyataan. Namun apa alasan yang mendorongnya melakukan ini? Hawking mengakui bahwa dia lebih menyukai model alam semesta selain dari Dentuman Besar karena yang terakhir ini "mengisyaratkan penciptaan Ilahiah", dan model seperti itu dirancang untuk ditentang.

Semua ini menunjukkan bahwa model alternatif dari Dentuman Besar, seperti keadaan-stabil, model alam semesta berosilasi, dan model alam semesta kuantum, timbul dari prasangka filosofis materialis. Penemuan ilmiah telah menunjukkan realitas Dentuman Besar dan bahwa teori ini menunjukkan kehadiran Sang Pencipta nan Agung dari suatu "keberadaan" Allah SWT.

TANDA-TANDA AL QURAN


Satu hal yang saya kagumi dari tauhid yang saya pegang adalah, bahwa dalam Al Quran ternyata mampu menjelaskan banyak fenomena penciptaan, kosmologis dan saintisme dan dapat dinalarkan dengan pemikiran logis. Untuk saya, teori-teori yang dilemparkan oleh kaum materialis justru membantu saya untuk berlari menuju kesempurnaan penciptaan oleh Sang Khalik. Kembali berperannya dogma agama nan cemerlang.

Kebenaran yang dipertahankan oleh sumber-sumber agama adalah realitas penciptaan dari ketiadaan. Ini telah dinyatakan dalam kitab-kitab suci yang telah berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi manusia selama ribuan tahun. Dalam semua kitab suci seperti Perjanjian Lama (Taurat), Perjanjian Baru (Injil), Zabur (Mazmur) dan Al Quran, dinyatakan bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan dari ketiadaan oleh Allah.

Dalam satu-satunya kitab yang diturunkan Allah yang telah bertahan sepenuhnya utuh, Al Quran, ada pernyataan tentang penciptaan alam semesta dari ketiadaan, di samping bagaimana kemunculannya sesuai dengan ilmu pengetahuan abad ke-21, meskipun diungkapkan 15 abad yang lalu.

Pertama, penciptaan alam semesta dari ketiadaan diungkapkan dalam Al Quran sebagai berikut: Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS. Al An'aam, 6: 101).

Aspek penting lain yang diungkapkan dalam Al Quran lima belas abad sebelum penemuan modern Dentuman Besar dan temuan-temuan yang berkaitan dengannya adalah bahwa ketika diciptakan, alam semesta menempati volume yang sangat kecil: Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al Anbiyaa', 21: 30).

Terjemahan ayat di atas mengandung pemilihan kata super penting dalam bahasa Arab. Kata ratk diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" yang berarti "bercampur, bersatu" dalam kamus bahasa Arab. Kata itu digunakan untuk merujuk dua zat berbeda yang menjadi satu. Frasa Kami pisahkan diterjemahkan dari kata kerja bahasa Arab, fatk yang mengandung makna bahwa sesuatu terjadi dengan memisahkan atau menghancurkan struktur ratk. Tumbuhnya biji dari tanah adalah salah satu tindakan yang menggunakan kata kerja ini. Kemudian mereka dipisahkan (fatk) dengan satu muncul dari yang lainnya.

Kebenaran lain yang terungkap dalam Al Quran adalah pengembangan jagat raya yang ditemukan pada akhir tahun 1920-an. Penemuan Hubble tentang pergeseran merah dalam spektrum cahaya bintang diungkapkan dalam Al Quran sebagai berikut: Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesung-guhnya Kami benar-benar meluaskannya. (QS. Adz-Dzaariyat, 51: 47).

Singkatnya, temuan-temuan ilmu alam modern mendukung kebenaran yang dinyatakan dalam Al Quran dan bukan dogma materialis. Materialis boleh saja menyatakan bahwa semua itu "kebetulan", namun fakta yang jelas adalah bahwa alam semesta terjadi sebagai hasil penciptaan dari pihak Allah dan satu-satunya pengetahuan yang benar tentang asal mula alam semesta ditemukan dalam firman Allah yang diturunkan kepada kita.


WAFATNYA MATERIALISTIK DAN TEORI KUANTUM SEMESTA


Kerapuhan Materialistik dalam Memandang Kosmologis
GALILEO Galilei adalah nama yang tegak menjulang dalam sejarah ilmu pengetahuan. Albert Einstein menyebutnya sebagai Bapak Fisika Modern sebagaimana yang kita kenal sekarang. Padahal 400 tahun yang lalu Galileo Galilei adalah nama yang miring, mata sejumlah pejabat tinggi pada Dinas Suci Inkuisisi Gereja Katolik. Otoritas tertinggi Gereja Katolik bahkan ingin, menghapuskan dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia hanya karena menyuarakan sebuah pandangan yang waktu itu dianggap sebagai sebuah kekafiran besar yang akan merusak akidah umat: pandangan bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta dan bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya.

Pandangan kosmologis yang dikenal sebagai sistem heliosentris itu sudah diajukan oleh Aristarchus (310-230 SM) yang hilang kaena peran besar Aristoteles dan Ptolomeus dalam buku terkenalnya, Almagest. Heliosentrisme muncul kembali di Eropa Renaisans lewat pemikiran biarawan Nikolaus Kopernikus (1473-1543) yang ia sajikan dalam kitab untuk Paus Paulus III, De Revolutionibus Orbium Coelestium ("On the Revolutions of the Celestial Orbs"), pada tahun terakhir kehidupannya. Pandangan ini dikukuhkan oleh Johannes Kepler (1571-1630) yang mengajukan sejumlah Hukum Gerak dan Orbit benda-benda langit. Galileo mencoba menandaskan kebenaran sistem heliosentris menggunakan teorinya sendiri yang ia anggap lebih kokoh.

Surat bertanggal 4 April 1597, Galileo mengaku ia sudah tahu betapa Bumi bergerak mengitari Matahari dan bahwa sistem Kopernikan "lebih mendekati kenyataan daripada pandangan lain yang dikemukakan Aristoteles dan Ptolomeus." Teori Heliosentris Kopernikus memberi penjelasan sederhana nan anggun atas gerak planet yang membingungkan kaum cendekia. Sambil menata ulang susunan planet-planet yang sudah dikenal saat itu, sistem heliosentris menawarkan diri sebagai sistem yang lebih masuk akal dibandingkan dengan sistem tradisional geosentris. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang membuat Kopernikus dan para pendukung teori Heliosentris, seperti Galileo, menangguhkan opini mereka.

Selain menggugat pandangan religius klasik atas posisi manusia di alam semesta yang menganggap bahwa Bumi adalah pusat jagat raya, dan Vatikan adalah pusat dunia, sistem heliosentris tampak absurd dilihat dari sudut pandang pengetahuan fisika yang dominan waktu itu. Sistem ini juga menentang pengalaman indrawi manusia yang dengan mata telanjang melihat Matahari mengedari Bumi dengan terbit di timur dan surut di barat.

Zaman mulai berubah arah ketika sistem heliosentris mulai menunjukkan kekuatannya ketika Gereja Katolik dirongrong gelombang Reformasi Protestan yang menggugat hak-hak istimewa Gereja yang sangat besar. Selain dilanda perlawanan kaum Protestan selama 30 tahun, Eropa juga dilanda Wabah Hitam, bermula sebagai sampar yang meletup di Daratan Cina, wabah ini menyebar lewat tikus-tikus yang terbawa kapal-kapal dagang sampai ke Eropa dan menumpas sepertiga penduduk Eropa hanya dalam waktu 25 tahun.

Sejak ratusan tahun, orang kuat dalam struktur Gereja Katolik yakin karena tanggung jawab besar dalam melindungi membimbing umat, mereka harus punya kekuasaan dan hak sangat istimewa yang selalu harus dipertahankan, apa pun akibatnya. Kekuasaan mereka yang luar biasa luas bukan saja upaya mewujudkan Kerajaan Tuhan di Bumi, juga diperlukan dalam menyelamatkan iman manusia dari pengetahuan yang tak selaras dengan alkitab.

Pandangan yang meyakini bahwa Bumi hanyalah seonggok batu yang menerus berputar dalam ruang hampa, mengitari sebuah bintang mungil, adalah pandangan yang membuat hidup akan terasa ciut. Alkitab akan tampak kacau dan kepastian yang selama ini menopang kehidupan umat akan luluh lantak dan tercerai-berai. Pandangan ini diyakini akan merongrong kekuasaan Gereja Katolik dan keyakinan umatnya, tertama kaum yang sederhana, dianggap juga sebagai pembawa bencana seperti wabah sampar tersebut.

Ternyata ada dukungan besar dari salah satu biarawan Giordano Bruno atas teori Galileo tiga tahun setelah suratnya. Bruno, meyakini bahwa Bumi bergerak mengitari Matahari, bukan sebagai pusat semesta, dan banyak planet seperti Bumi yang bertebaran di alam semesta seperti tertulis lewat Cena de le Ceneri ("The Ash Wednesday Supper") dan De l’Infinito, Universo e Mondi ("On the Infinite Universe and Worlds" 1584). Namun Bruno diinkuisisi di atas api unggun karena kekerasannya menentang titah Gereja Katolik Roma.

Yang jelas Rabu 22 Juni 1633, Galileo dijatuhkan vonis tanpa boleh melakukan pembelaan oleh Gereja Katolik. Ia dihukum sebagai penjahat dan dipaksa mengakui pikiran salah dan lemah, Keputusan Dinas Suci yang dibacakan dengan hikmat dan khusyuk itu, yang dihadirkan Dava Sobel di buku Galileo’s Daughter .

Penghinaan dan penistaan resmi terhadap Galileo itu dipaksakan untuk dikeluarkan hingga segenap dunia. Dikumandangkan dari Roma atas perintah Paus, seantero Italia, sampai ke Perancis, Flander, dan Swiss sebagai pelajaran bagi ilmuwan lain untuk mematuhi Gereja tanpa mengkompromikan isi Kitab Suci.

Disini terlihat jelas kemunafikan dan kasakralan agama yangn tidak dapat ditentang karena filsafat materialistic yang diagung-agungkan tidak mampu menjelaskan pengetahuan secara mendasar. Tetapi usaha menutup-nutupi dengan melakukan penistaan stigmatis terhadap bukti ilmiah, menjadi satu senjata andalan untuk tetap mengagungkan dogma agama yang pragmatis.

Sains Moderen sebagai Agen Perubahan


Kemajuan atas ilmu pengetahuan fisika terutama tentang perbintangan (asntronomi dan dunia kosmik) membawa banyak angina perubahan di dalam pemikiran mendasar filosofis. Dasar-dasar penciptaan telah kembali dipelajari setelah sebelumnya, kaum materialistic, emipirk dan positivisme logis beursaha menafikkan bahwa dunia ini dinamis dan bukan hanya seonggok batu atau materi tanpa arti sehingga bisa digunakan oleh manusia dengan semaunya.

Sebagai seorang peneliti sekaligus juga orang yang memahami peran agam dalam kehdupandan penciptaan, saya berusaha memandang dari sisi religiusme dengan tetap mengedepankan prinsip pengetahuan ilmiah. Berbagai bukti ilmu pengetahuan yang menguatkan tentang penciptaan kosmologis harus mampu disandingkan dengan pemikiran masuk akal sekaligus juga penalaran secara imani.

Sejak kecil, saya tertarik sekali dengan dunia astronomi terutama karena di dunia ini saya bisa melihat dan mengagumi keesaan dan penciptaan alam semesta dari tangan Allah. Dari sini sayajuga bisa berpikir bahwa ternyata kita sebagai manusia hanyalah mahluk kecil yang tidak berguna dan bumi tempat kita berpijak ini hanyalah titik kecil diantara luasnya “hutan bintang” di alam semesta.

Jika hanyalah setitik noktah di angkasa, kenapa kita mesti merasa sombong dan mengaggap diri kita lebih tinggi dari orang lain. Kita mungkin belum menyadari bahwa mungkin di luar galaksi kita ini, terdapat bentuk kehidupan lain –entah lebih sederhana atau lebih tinggi- yang membuat kita yakin bahwa kita tidaklah sendiri.

Sebagai contoh, Bumi kita ini terletak pada jarak 150 juta km dari matahari atau 1 satuan astronomi (SA). Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik artinya cahaya yang diterima bumi ini adalah cahaya yang dilepaskan matahari 500 detik lalu. Bagaimana dengan alpha centaury yang berjarak 4.3 tahun cahaya dari bumi? Atau galaksi lain yang jaraknya jutaan tahun cahaya? Apakah kita masih merasa diri kita lebih hebat?

Energi Kosmologis
Para astronom yang memanfaatkan Teleskop Antariksa Hubble mengkonfirmasi bahwa energi gelap –gaya tolak misterius yang menyebabkan percepatan pengembangan alam semesta– juga telah ada pada masa awal terbentuknya kosmos. Penemuan ini menambah bukti-bukti keberadaan energi gelap hingga 9 miliar tahun lalu, suatu waktu dimana kebanyakan galaksi telah membentuk dan alam semesta masih berada pada tahap pembentukan formasi bintang.

Para astronom telah lama mengetahui bahwa galaksi bergerak saling menjauh satu sama lain. Namun demikian, dalam satu dekade terakhir, mereka dikejutkan oleh penemuan bahwa tingkat pengembangan alam semesta telah mengalami percepatan, bukannya melambat akibat tarikan gravitasional sebagaimana yang seharusnya terjadi.

Sesuatu seperti apa di alam semesta yang bisa menyebabkan galaksi mengalami percepatan saat menjauh satu sama lain? Apabila alam semesta berlaku seperti permainan tarik tambang, dengan gravitasi pada salah satu ujung talinya, apa yang menariknya di ujung yang lain? Para astronom menyebut energi misterius itu sebagai energi gelap (dark energy). Dalam kebanyakan kalkulasi, energi gelap menyusun sekitar 70% dari massa-energi di alam semesta.

Teori energi gelap baru belakangan ini menjadi “anak emas” dari kosmologi, walaupun Einstein telah meramalkan keberadaannya hampir 100 tahun lalu dalam teori relativitas umum.

Meki hasil terakhir belum mengijinkan para ilmuwan untuk melahirkan teori kosmologis yang spesifik, data terbaru ini konsisten dengan teori Einstein mengenai konstanta kosmologis, suatu besaran dari kerapatan energi di kosmos. Nilai dari konstata kosmologis dalam persamaan Einstein menentukan apakah alam semesta punya cukup massa agar gravitasi dapat menarik dan menyatukan semuanya, terus mengembang selamanya, atau pengembangan alam semesta suatu saat akan berhenti.

Dalam fisika moderen terutama fisika kuantum dan astronomi, dikenal teori super (Theory of Everything), yaitu teori yang mengatakan bahwa dunia ini dikontrol oleh empat gaya fundamental, yaitu garvitasi, elektromagnetik, gaya lemah dan gaya kuat yang banyak dijabarkan dalam fisika kuantum atau fisika atom. Teori Kuantum sendiri kata banyak ilmuwan bisa menjelaskan dengan baik dunia makro tanpa memberi kesempatan orang untuk mengerti kenapa.

Adalah Einstein yang pertama kali berpikir bahwa empat gaya fundamental ini semestinya bisa dijelaskan dalam sebuah teori umum. Saya sependapat dengan Einstein yang benar-benar yakin Tuhan itu tidak bermain dalam penciptaan Alam Semesta - ada ucapannya yang terkenal yang kira-kira berbunyi “saya ingin tau pikiran Tuhan sewaktu membuat alam semesta ini”.

Einstein menghabiskan sisa hidupnya tiga tahun setelah Teori Relativitas Umumnya (1915) membangun teori ini (yang kemudian disebut Teori Segalanya). Usaha pertama yang dia lakukan adalah menyatukan gaya gravitasi dengan gaya elektromagnetik. Dua gaya ini memang memiliki keindentikan model matematika, yaitu besarnya sama-sama tergantung (1/r2).
Sayangnya teori itu gagal. Belakangan orang sadar bahwa Teori Segalanya dapat dilakukan dengan menyelesaikan Teori Kuantum untuk gaya elektromagnetik, lemah, dan gaya kuat. Gabungan tiga gaya ini disebut Teori Unifikasi Agung. Setelah itu barulah digabung dengan si cantik Teori Gravitasi untuk menjadikannya Teori Segalanya.

Kemudian, Abussalam dan kawan-kawan berhasil menggabungkan electromagnetic dan weak force menjadi satu, kemudian disebut sebagai Unification Electroweak Theory (Abussalam kemudian mendapat nobel thn 1979). Langkah selanjutnya adalah menggabungkannya dengan Strong Force Theory.

Lalu kemudian banyak yang mempertanyakan peran Tuhan dalam penciptaan langit dan bumi. Apakah ada peran Tuhan dalam keteraturan alam semesta ini? Bahwa dari fakta tertulis adalah tidak ada Tuhan dalam semua pemodelan (persamaan) dan pendekatan ilmiah untuk menjelaskan sebuah fenomena tapi, bagi orang beragama fakta itu dijadikan sebagai bukti nyata kehadiran Sang Khalik, karena semua permodelan dan pendekatan ilmiah untuk sebuah fenomena tak lain dan tak bukan adalah sunnatullah (ayat-ayat Allah).