Tuesday, September 18, 2007

WAFATNYA MATERIALISTIK DAN TEORI KUANTUM SEMESTA


Kerapuhan Materialistik dalam Memandang Kosmologis
GALILEO Galilei adalah nama yang tegak menjulang dalam sejarah ilmu pengetahuan. Albert Einstein menyebutnya sebagai Bapak Fisika Modern sebagaimana yang kita kenal sekarang. Padahal 400 tahun yang lalu Galileo Galilei adalah nama yang miring, mata sejumlah pejabat tinggi pada Dinas Suci Inkuisisi Gereja Katolik. Otoritas tertinggi Gereja Katolik bahkan ingin, menghapuskan dari sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia hanya karena menyuarakan sebuah pandangan yang waktu itu dianggap sebagai sebuah kekafiran besar yang akan merusak akidah umat: pandangan bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta dan bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya.

Pandangan kosmologis yang dikenal sebagai sistem heliosentris itu sudah diajukan oleh Aristarchus (310-230 SM) yang hilang kaena peran besar Aristoteles dan Ptolomeus dalam buku terkenalnya, Almagest. Heliosentrisme muncul kembali di Eropa Renaisans lewat pemikiran biarawan Nikolaus Kopernikus (1473-1543) yang ia sajikan dalam kitab untuk Paus Paulus III, De Revolutionibus Orbium Coelestium ("On the Revolutions of the Celestial Orbs"), pada tahun terakhir kehidupannya. Pandangan ini dikukuhkan oleh Johannes Kepler (1571-1630) yang mengajukan sejumlah Hukum Gerak dan Orbit benda-benda langit. Galileo mencoba menandaskan kebenaran sistem heliosentris menggunakan teorinya sendiri yang ia anggap lebih kokoh.

Surat bertanggal 4 April 1597, Galileo mengaku ia sudah tahu betapa Bumi bergerak mengitari Matahari dan bahwa sistem Kopernikan "lebih mendekati kenyataan daripada pandangan lain yang dikemukakan Aristoteles dan Ptolomeus." Teori Heliosentris Kopernikus memberi penjelasan sederhana nan anggun atas gerak planet yang membingungkan kaum cendekia. Sambil menata ulang susunan planet-planet yang sudah dikenal saat itu, sistem heliosentris menawarkan diri sebagai sistem yang lebih masuk akal dibandingkan dengan sistem tradisional geosentris. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang membuat Kopernikus dan para pendukung teori Heliosentris, seperti Galileo, menangguhkan opini mereka.

Selain menggugat pandangan religius klasik atas posisi manusia di alam semesta yang menganggap bahwa Bumi adalah pusat jagat raya, dan Vatikan adalah pusat dunia, sistem heliosentris tampak absurd dilihat dari sudut pandang pengetahuan fisika yang dominan waktu itu. Sistem ini juga menentang pengalaman indrawi manusia yang dengan mata telanjang melihat Matahari mengedari Bumi dengan terbit di timur dan surut di barat.

Zaman mulai berubah arah ketika sistem heliosentris mulai menunjukkan kekuatannya ketika Gereja Katolik dirongrong gelombang Reformasi Protestan yang menggugat hak-hak istimewa Gereja yang sangat besar. Selain dilanda perlawanan kaum Protestan selama 30 tahun, Eropa juga dilanda Wabah Hitam, bermula sebagai sampar yang meletup di Daratan Cina, wabah ini menyebar lewat tikus-tikus yang terbawa kapal-kapal dagang sampai ke Eropa dan menumpas sepertiga penduduk Eropa hanya dalam waktu 25 tahun.

Sejak ratusan tahun, orang kuat dalam struktur Gereja Katolik yakin karena tanggung jawab besar dalam melindungi membimbing umat, mereka harus punya kekuasaan dan hak sangat istimewa yang selalu harus dipertahankan, apa pun akibatnya. Kekuasaan mereka yang luar biasa luas bukan saja upaya mewujudkan Kerajaan Tuhan di Bumi, juga diperlukan dalam menyelamatkan iman manusia dari pengetahuan yang tak selaras dengan alkitab.

Pandangan yang meyakini bahwa Bumi hanyalah seonggok batu yang menerus berputar dalam ruang hampa, mengitari sebuah bintang mungil, adalah pandangan yang membuat hidup akan terasa ciut. Alkitab akan tampak kacau dan kepastian yang selama ini menopang kehidupan umat akan luluh lantak dan tercerai-berai. Pandangan ini diyakini akan merongrong kekuasaan Gereja Katolik dan keyakinan umatnya, tertama kaum yang sederhana, dianggap juga sebagai pembawa bencana seperti wabah sampar tersebut.

Ternyata ada dukungan besar dari salah satu biarawan Giordano Bruno atas teori Galileo tiga tahun setelah suratnya. Bruno, meyakini bahwa Bumi bergerak mengitari Matahari, bukan sebagai pusat semesta, dan banyak planet seperti Bumi yang bertebaran di alam semesta seperti tertulis lewat Cena de le Ceneri ("The Ash Wednesday Supper") dan De l’Infinito, Universo e Mondi ("On the Infinite Universe and Worlds" 1584). Namun Bruno diinkuisisi di atas api unggun karena kekerasannya menentang titah Gereja Katolik Roma.

Yang jelas Rabu 22 Juni 1633, Galileo dijatuhkan vonis tanpa boleh melakukan pembelaan oleh Gereja Katolik. Ia dihukum sebagai penjahat dan dipaksa mengakui pikiran salah dan lemah, Keputusan Dinas Suci yang dibacakan dengan hikmat dan khusyuk itu, yang dihadirkan Dava Sobel di buku Galileo’s Daughter .

Penghinaan dan penistaan resmi terhadap Galileo itu dipaksakan untuk dikeluarkan hingga segenap dunia. Dikumandangkan dari Roma atas perintah Paus, seantero Italia, sampai ke Perancis, Flander, dan Swiss sebagai pelajaran bagi ilmuwan lain untuk mematuhi Gereja tanpa mengkompromikan isi Kitab Suci.

Disini terlihat jelas kemunafikan dan kasakralan agama yangn tidak dapat ditentang karena filsafat materialistic yang diagung-agungkan tidak mampu menjelaskan pengetahuan secara mendasar. Tetapi usaha menutup-nutupi dengan melakukan penistaan stigmatis terhadap bukti ilmiah, menjadi satu senjata andalan untuk tetap mengagungkan dogma agama yang pragmatis.

Sains Moderen sebagai Agen Perubahan


Kemajuan atas ilmu pengetahuan fisika terutama tentang perbintangan (asntronomi dan dunia kosmik) membawa banyak angina perubahan di dalam pemikiran mendasar filosofis. Dasar-dasar penciptaan telah kembali dipelajari setelah sebelumnya, kaum materialistic, emipirk dan positivisme logis beursaha menafikkan bahwa dunia ini dinamis dan bukan hanya seonggok batu atau materi tanpa arti sehingga bisa digunakan oleh manusia dengan semaunya.

Sebagai seorang peneliti sekaligus juga orang yang memahami peran agam dalam kehdupandan penciptaan, saya berusaha memandang dari sisi religiusme dengan tetap mengedepankan prinsip pengetahuan ilmiah. Berbagai bukti ilmu pengetahuan yang menguatkan tentang penciptaan kosmologis harus mampu disandingkan dengan pemikiran masuk akal sekaligus juga penalaran secara imani.

Sejak kecil, saya tertarik sekali dengan dunia astronomi terutama karena di dunia ini saya bisa melihat dan mengagumi keesaan dan penciptaan alam semesta dari tangan Allah. Dari sini sayajuga bisa berpikir bahwa ternyata kita sebagai manusia hanyalah mahluk kecil yang tidak berguna dan bumi tempat kita berpijak ini hanyalah titik kecil diantara luasnya “hutan bintang” di alam semesta.

Jika hanyalah setitik noktah di angkasa, kenapa kita mesti merasa sombong dan mengaggap diri kita lebih tinggi dari orang lain. Kita mungkin belum menyadari bahwa mungkin di luar galaksi kita ini, terdapat bentuk kehidupan lain –entah lebih sederhana atau lebih tinggi- yang membuat kita yakin bahwa kita tidaklah sendiri.

Sebagai contoh, Bumi kita ini terletak pada jarak 150 juta km dari matahari atau 1 satuan astronomi (SA). Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik artinya cahaya yang diterima bumi ini adalah cahaya yang dilepaskan matahari 500 detik lalu. Bagaimana dengan alpha centaury yang berjarak 4.3 tahun cahaya dari bumi? Atau galaksi lain yang jaraknya jutaan tahun cahaya? Apakah kita masih merasa diri kita lebih hebat?

Energi Kosmologis
Para astronom yang memanfaatkan Teleskop Antariksa Hubble mengkonfirmasi bahwa energi gelap –gaya tolak misterius yang menyebabkan percepatan pengembangan alam semesta– juga telah ada pada masa awal terbentuknya kosmos. Penemuan ini menambah bukti-bukti keberadaan energi gelap hingga 9 miliar tahun lalu, suatu waktu dimana kebanyakan galaksi telah membentuk dan alam semesta masih berada pada tahap pembentukan formasi bintang.

Para astronom telah lama mengetahui bahwa galaksi bergerak saling menjauh satu sama lain. Namun demikian, dalam satu dekade terakhir, mereka dikejutkan oleh penemuan bahwa tingkat pengembangan alam semesta telah mengalami percepatan, bukannya melambat akibat tarikan gravitasional sebagaimana yang seharusnya terjadi.

Sesuatu seperti apa di alam semesta yang bisa menyebabkan galaksi mengalami percepatan saat menjauh satu sama lain? Apabila alam semesta berlaku seperti permainan tarik tambang, dengan gravitasi pada salah satu ujung talinya, apa yang menariknya di ujung yang lain? Para astronom menyebut energi misterius itu sebagai energi gelap (dark energy). Dalam kebanyakan kalkulasi, energi gelap menyusun sekitar 70% dari massa-energi di alam semesta.

Teori energi gelap baru belakangan ini menjadi “anak emas” dari kosmologi, walaupun Einstein telah meramalkan keberadaannya hampir 100 tahun lalu dalam teori relativitas umum.

Meki hasil terakhir belum mengijinkan para ilmuwan untuk melahirkan teori kosmologis yang spesifik, data terbaru ini konsisten dengan teori Einstein mengenai konstanta kosmologis, suatu besaran dari kerapatan energi di kosmos. Nilai dari konstata kosmologis dalam persamaan Einstein menentukan apakah alam semesta punya cukup massa agar gravitasi dapat menarik dan menyatukan semuanya, terus mengembang selamanya, atau pengembangan alam semesta suatu saat akan berhenti.

Dalam fisika moderen terutama fisika kuantum dan astronomi, dikenal teori super (Theory of Everything), yaitu teori yang mengatakan bahwa dunia ini dikontrol oleh empat gaya fundamental, yaitu garvitasi, elektromagnetik, gaya lemah dan gaya kuat yang banyak dijabarkan dalam fisika kuantum atau fisika atom. Teori Kuantum sendiri kata banyak ilmuwan bisa menjelaskan dengan baik dunia makro tanpa memberi kesempatan orang untuk mengerti kenapa.

Adalah Einstein yang pertama kali berpikir bahwa empat gaya fundamental ini semestinya bisa dijelaskan dalam sebuah teori umum. Saya sependapat dengan Einstein yang benar-benar yakin Tuhan itu tidak bermain dalam penciptaan Alam Semesta - ada ucapannya yang terkenal yang kira-kira berbunyi “saya ingin tau pikiran Tuhan sewaktu membuat alam semesta ini”.

Einstein menghabiskan sisa hidupnya tiga tahun setelah Teori Relativitas Umumnya (1915) membangun teori ini (yang kemudian disebut Teori Segalanya). Usaha pertama yang dia lakukan adalah menyatukan gaya gravitasi dengan gaya elektromagnetik. Dua gaya ini memang memiliki keindentikan model matematika, yaitu besarnya sama-sama tergantung (1/r2).
Sayangnya teori itu gagal. Belakangan orang sadar bahwa Teori Segalanya dapat dilakukan dengan menyelesaikan Teori Kuantum untuk gaya elektromagnetik, lemah, dan gaya kuat. Gabungan tiga gaya ini disebut Teori Unifikasi Agung. Setelah itu barulah digabung dengan si cantik Teori Gravitasi untuk menjadikannya Teori Segalanya.

Kemudian, Abussalam dan kawan-kawan berhasil menggabungkan electromagnetic dan weak force menjadi satu, kemudian disebut sebagai Unification Electroweak Theory (Abussalam kemudian mendapat nobel thn 1979). Langkah selanjutnya adalah menggabungkannya dengan Strong Force Theory.

Lalu kemudian banyak yang mempertanyakan peran Tuhan dalam penciptaan langit dan bumi. Apakah ada peran Tuhan dalam keteraturan alam semesta ini? Bahwa dari fakta tertulis adalah tidak ada Tuhan dalam semua pemodelan (persamaan) dan pendekatan ilmiah untuk menjelaskan sebuah fenomena tapi, bagi orang beragama fakta itu dijadikan sebagai bukti nyata kehadiran Sang Khalik, karena semua permodelan dan pendekatan ilmiah untuk sebuah fenomena tak lain dan tak bukan adalah sunnatullah (ayat-ayat Allah).

No comments: